JERAT HUKUM BAGI SESEORANG YANG MENGHINA SESEORANG DIDEPAN UMUM

 

Seorang Pemuka Agama telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pemuka agama sebagaimana mestinya jika dia adalah seorang pemuka agama. Pemuka agama tersebut telah menghina dengan berkata kasar yang dia tujukan kepada seorang wanita dengan perkataan kasar yaitu dengan sebutan “LONTE” yang dimana, seorang wanita tersebut adalah juga seorang artis terkenal di Indonesia. Menurut pengakuan artis wanita tersebut adalah, bahwa dirinya bukanlah seorang lonte atau wanita jalang yang seperti Pemuka Agama tersebut katakan terhadap dirinya dan bahwa seorang artis wanita tersebut juga tidak pernah membuka usaha jasa prostitusi.

Melihat dari kasus diatas dapat disimpulkan bahawa perkataan dari Pemuka Agama tersebut tidak pantas diucapkan apalagi didepan umum. pengertian dari kata Lonte sendiri adalah wanita jalang atau wanita liar yang melakukan atau membuka usaha prostitusi atau menwarkan jasa dirinya untuk melakukan suatu kegiatan asusila atau mesum dengan priapria hidung belang dengan tarif harga yang wanita jalang tersebut tentukan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Lonte sendiri memiliki arti perempuan jalang, wanita tunasusila, pelacur, sundal. Terkait dengan perkataan Pemuka Agama tersebut, Pemuka Agama tersebut dapat dijerat dengan hukuman berupa, Pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu serta denda sebesar Rp.4.500 (Empat Ribu Lima Ratus Rupiah) sebagaimana hukuman ini tertulis dalam Pasal 315 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Yang sebagaimana pasal 315 KUHP ini berbunyi :

Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat pencemaran atau pencemaran tertulis yang dilakukan terhadap seseorang, baik di muka umum dengan lisan atau tulisan, maupun di muka orang itu sendiri dengan lisan atau perbuatan, atau dengan surat yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, diancam karena penghinaan ringan dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu.”

Maka dari itu, setiap orang harus berhati-hati dalam mengucapkan suatu perkataan apalagi dia adalah seorang Pemuka Agama. Pemuka Agama tidak seharusnya berkata kasar baik itu depan umum.

Dasar Hukum: Pasal 315 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Refrensi: Kamus Besar Bahasa Indonesia

 

-Penulis: Raja Maruli Tua Manalu, S.H.

Write a Reply or Comment